Sebenarnya bukan kali pertama ini saja harus berurusan dengan copet, berhadap2an sampai beradu tatap... hanya saja kali ini pelakunya tidak sendiri dan modus yg saya temui berbeda dari copet yang 'tradisional'.
Kejadiannya sekitar dua minggu lalu, di Metro Mini 640 jurusan Tanah Abang - Pasar Minggu, di ibukota negara ini yang katanya menyandang peringkat kelima kota besar di dunia dalam hal ketidakamanan angkutan umumnya.
Sesaat menjelang jembatan penyeberangan Hotel Kartika Chandra, di seberang Kantor Pusat DJP -tempat yang akan dituju- saya segera bangkit dari kursi favorit, kursi paling depan samping pak supir, dan menyebutkan kode pada sopir, "jembatan!" sambil berbalik menuju pintu keluar bagian depan namun tertahan oleh seorang pemuda berbadan tegap yang sudah berdiri duluan di depan pintu, sepertinya akan turun juga.
Tapi saat bis berhenti, pemuda itu ternyata tidak beranjak turun, dengan agak heran campur kesal, saya permisi lewat. Belum sempat melangkah, tiba-tiba bagian bawah celana saya ditarik2 seorang bapak yang duduk di sebelah kiri saya, merunduk sambil memungut bolpoin yang nampaknya terjatuh dan mungkin hampir terinjak sepatu saya. Saat akan lanjut segera turun, bapak itu malah kembali menarik2 celana saya sambil (seperti) menjatuhkan lagi bolpoinnya.
Semua berlangsung begitu cepat, dalam kekisruhan dan kebingungan antara mau terburu turun dan celana yang terus saja ditarik2 sambil merasakan seorang pemuda lain yang juga berdiri di samping pemuda tegap tadi seperti memepet badan saya yang masih tertahan di tengah-tengah, saya sempat berujar, "apaan sih ini?" dengan badan dan pandangan menunduk ke sepatu.
Tiba-tiba seperti tersadar dan merasakan firasat yang tidak beres, tangan refleks merangkul tas ransel yang saya pasang di badan bagian depan - prosedur standar yang biasa saya jalankan kala naik krl / angkot - dan menyadari bahwa resleting kantong ransel bagian depan sudah terbuka dengan mendapati tangan pemuda yang memepet tadi di dalamnya tengah menggenggam hp cina kesayangan saya dalam posisi siap menariknya. Rupanya trik mereka adalah mengalihkan perhatian saya saat pengambil barang beraksi.
"Mau ngapain kamu?!!!!, semburku spontan.. Pemuda itu hanya diam sambil perlahan mengeluarkan tangannya dari tasku dan meninggalkan hpnya di dalam. Sesaat aku menatapnya dan mengedarkan pandanganku ke sekitar, kepada bapak yang duduk di sebelah kiri tadi, bapak berbadan besar lain yang duduk di sebelah kanan persis pintu masuk, dan dua pemuda yang menghalangi jalanku, mereka semua membalas tatapan mata saya dengan pandangan waspada, seperti menanti respon apa yang akan saya lakukan selanjutnya.
Tak berpikir panjang saya segera turun, mengecek lagi hp dan kantung ransel lainnya dimana dompet tersimpan. Alhamdulillah semua masih ada di tempatnya. Sambil beristighfar saya teruskan perjalanan menaiki jembatan, menapaki langkah dan bersyukur atas perlindungan-Nya meski badan lemas, dada berdebar-debar, dan nafas tersengal.
Semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari kejadian seperti itu.
Jayapura, 1 November 2015
